Senin, 13 Mei 2019

Edvan M Kautsar Motivator Muda Indonesia memberikan seminar Bahagia Bekerja untuk Pegawai Semen Indonesia dan Semen Gresik di Jawa Timur


edvanmkautsar, edvan m kautsar, edvan muhammad kautsar, motivator indonesia, motivator nasional
Banyaknya persoalan hidup membuat kebahagian makin sulit digapai. Akibatnya tidak sedikit di antara kita yang salah mencari jalan bahagia. Ada yang ambisisus mengejar kebahagiaan fisik semata, yakni sumber kebahagiaan yang bersifat kebendaan.

Jeleknya, ketika orang terjebak hanya mengejar harta benda, maka dia tidak akan pernah merasa puas, makin serakah, tidak peduli, serta hanya mementingkan diri sendiri. “Ingatlah, dunia itu semakin dikejar akan semakin jauh,” kata motivator muda Edvan Muhammad Kautsar saat membagikan wawasannya kepada karyawan Semen Indonesia di Learning Center lantai 4, Gedung Utama Semen Indonesia, Gresik, Jumat (21/12/2018).

Hal sama terjadi kalau kita cuma mengejar kebahagiaan emosional, contohnya pujian dari atasan, piagam penghargaan, apresiasi, atau sekadar diberi tepuk tangan. Kebahagiaan emosional, menurut Edvan, bisa membuat seseorang hanya bekerja kalau dilihat atasan, suka pamer, sering kecewa, juga stres. “Akibat yang paling parah adalah sakit jiwa. Ingat, menurut hasil survei, 1 dari 5 orang di Indonesia ini megalami gangguan jiwa,” imbuh The Youngest Motivator of Asia (Motivator Termuda Se-Asia) tahun 2012 ini.

Lalu, seperti apa kebahagiaan yang hakiki? Menurut Edvan, bahagia adalah ketika kita bisa memberi, melayani atau bermanfaat bagi orang lain. Caranya adalah dengan mengetahui makna dan hikmah di setiap kejadian yang kita alami. “Itu gampang diomongkan, tapi sulit dijalani,” cetusnya.

Edvan menyebut, betapa kita selalu mengeluh ketika tertimpa kemacetan di jalan. Lantas menyalahkan sopir, pengendara lain, atau jalan yang terlalu sempit. Padahal ada hikmah penting di balik kejadian tersebut. “Ini kisah nyata. Salah satu korban selamat kecelakaan Lion Air JT 610 beberapa waktu lalu adalah penumpang yang terlambat datang ke bandara. Dia kena macet di tol Cikampek. Kalau sebelumnya menggerutu, pada akhirnya dia sangat bersyukur karena terlambat. Itulah hikmah kehidupan,” beber pria yang lahir pada tahun 1993 di Tasikmalaya, Jawa Barat, ini.
Dikatakan Edvan, hidup itu seperti melempar bumerang. Artinya, apa yang kita lakukan akan berbalik pada kita sendiri. “Einstein mengatakan, energi yang keluar sama dengan energi yang masuk. Energi tidak akan bisa hilang,” ujarnya.

Karena itu, kalau mau bahagia, bahagiakan dulu orang lain. Banyak-banyaklah memberi manfaat kepada siapa saja, tak peduli kenal atau tidak. Ketika kita memberi kebahagiaan pada orang lain, maka energi positif itu akan terus bergerak tanpa bisa dicegah. Dan, pada saatnya engeri itu akan kembali pada kita.

Itu, sambung Edvan, juga berlaku di dunia kerja. Jangan pernah menganggap pekerjaan sebagai beban. Sebab, kalau itu yang terjadi, kita tidak akan pernah bahagia dalam bekerja. “Setiap karyawan harus memaknai kerja sebagai ibadah dan pengabdian. Harus siap menghadapi perubahan, bermanfaat bagi sesama (team work), dan saling melayani. Sadari bahwa pelayanan kita akan berbalas kebaikan,” katanya lagi.

Tak lupa Edvan mengingatkan para karyawan agar menghindari SMOS, yaitu ‘senang melihat orang lain susah’ atau ‘susah melihat orang lain senang.’ “Tetangga beli kulkas kedinginan, tetangga beli kompor kita kepanasan. Hindari perilaku seperti itu dan banyak-banyaklah bersyukur. Sebab Tuhan seringkali memberi kehidupan yang indah tetapi bungkusnya tidak indah,” tutur Edvan dalam sharing session yang diikuti ratusan karyawan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar